ANDA SEDANG MEMBACA

ANDA SEDANG MEMBACA

Jumat, 25 April 2014

You are here : Home » Avatar » Adil Dalam Memandang Calon Pemimpin

Adil Dalam Memandang Calon Pemimpin

Beberapa Netter Muslim terlihat tengah berdebat tentang gerak-gerik Jokowi yang di beritakan ada kemungkinan dirinya memilih Cawapres Non Muslim ternama, Jenderal Luhut Binsar Panjaitan.

Sebagian mengharamkan, sebagian lagi membolehkan.
Gambar : Google.
jokowi, joko widodo,

Ingat ini, ketika ada tokoh Islam terpandang kesandung kasus, kita yang seumat menjadi begitu sangat hati-hati untuk ikut mengadili atau sekadar bicara menyampaikan pendapat. Kebanyakan umat langsung diam seribu bahasa. Kikuk.

Umat terlanjur memandang mereka sebagai orang-orang eksklusif yang berilmukan Alquran yang tidak mungkin berbuat aniaya.

Sebut saja contohnya, ingat cerita Alm. Zainuddin MZ dengan Aida ?? Atau polemik Solmed dengan mantan Istrinya ?? Skandal Rhoma Irama dengan Angel Lelga ?? Atau kasus Mantan Ketua PKS dengan korupsi impor daging sapinya ?? Atau Guntur Bumi dengan segala kasus penipuan, pelecehan, dan pencurian ???

Kalau kita bisa hati-hati untuk hal demikian, lantas mengapa kita juga tidak bisa hati-hati menilai orang-orang yang ingin memimpin bangsa ini meski ia itu seorang non muslim ?? Siapa tahu mereka punya niat baik merubah bangsa ini. Adillah dalam memandang hati orang.

"...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu 
terhadap sesuatu kaum, 
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, 
karena adil itu lebih dekat pada takwa. 
Dan bertakwalah kepada Allah, 
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

(Q.S Al-Maidah : 8)

Mengenai ada beberapa ayat yang melarang termasuk contohnya surat 5/51 dan 2/120 :

Surat 5/51 :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". 

Surat 2/120:

 "Orang-orang Yahudi dan Nasrani 
tidak akan senang kepada kamu 
hingga kamu mengikuti agama mereka..."

Ayat di atas sepertinya lebih menunjuk agar janganlah memilih Non Muslim garis keras yang terbukti menyebarkan paham akidahnya, "...hingga kamu mengikuti agama mereka..." Cermati juga pernyataan surat 5/57.

Dari itu, lihat surat 3/199 yang memberikan penjelasan :

 "Dan sesungguhnya di antara Ahli kitab
ada yang beriman kepada Tuhan dan kepada apa yang telah
diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada mereka, 
MEREKA orang-orang yang berendah hati kepada Tuhan".

Adil lah melalui ayat di atas, sebagian dari non Muslim ada yang berendah hati kepada Tuhan melalui pengajaran yang di dapat dari kitabnya masing-masing.

Baik buruknya seseorang tidak bisa di lihat dari apa yang di anutnya (keyakinan), melainkan dari apa yang di perbuatnya. Sebab, istilah "non muslim" tidak boleh mutlak di artikan sebagai orang-orang yang tak sejalan dengan paham Tauhid.

Kalau kita sudah sadar kata "Allah" itu berbeda di setiap kitab/bangsa. Maka, kita juga seharusnya sadar bahwa kata "islam" pun berbeda di setiap kitab/bangsa.
 

 Lihat lagi ayat ini.
Surat Al 'Imran, 113 :

"Mereka itu tidak (semuanya) sama.
Ada di antara Ahli Kitab (orang beragama) yang jujur,
mereka membaca ayat-ayat Tuhan (kitabnya) pada malam hari,
dan mereka bersujud (takut pada Tuhan)."

Jika ayat-ayat yang saya bawa menurut pembaca tidak menyinggung perihal kepemimpinan justru itu komentar keliru. Orang yang mentaati ayat Tuhan (baik dari kitab manapun) tentulah orang tersebut cukup pantas di uji menjadi pemimpin.

Jadi, pemberitaan Jokowi yang katanya akan menggandeng Non Muslim untuk bekerja sama mengurusi bangsa ini sepertinya itu bukanlah suatu keharaman mutlak. Tapi kajian ini janganlah di artikan sebagai bentuk dukungan saya kepada beliau. Atau lagi, ini jangan di salahtafsirkan. Kita Muslim haruslah tetap (minimal) satu tingkat diatas yang lainnya.

Surat 3/28 :

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir 
menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin..."

Dua ayat pembeda yang saya sertakan terakhir ini cukuplah untuk di mengerti pembaca bahwasanya melihat status keagamaan seseorang tidak boleh membuat kita menjadi memandang mereka sebelah mata.

Surat 9/23 :
 
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan
bapa-bapa dan saudara-saudaramu (meski mereka Islam) menjadi wali,
jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan
dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Surat Al-Baqarah, 62 :

"Sesungguhnya orang -orang yang beriman, 
orang-orang Yahudi, Nasrani, Sabiin,
siapa saja (diantara mereka) yang beriman
kepada Tuhan dan hari akhir dan melakukan kebajikan, 
akan ada pahala bagi mereka di sisi Tuhan mereka, 
tidak ada rasa takut pada mereka, 
dan mereka tidak bersedih hati."

1 komentar:

  1. Firman Allah melalui ayat ini perlu dipikir dengan matang. Menurutku adalah grusa-grusu menyimpulkan bahwa "Siapa saja orang" non Islam yang beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, dan melakukan kebajikan itu boleh menjadi pimpinan sekumpulan manusia Muslim. Beriman kepada Tuhan berbeda dengan beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir ini berkaitan dengan rukun sebuah agama. Orang yang beriman kepada Tuhan selain Allah akan "menurunkan" sebuah kebijakan "tidak Qur'ani", seperti penghalalan riba dan meluasnya terbukanya "Aurat wanita" yang mendorong munculnya industri berbasis riba dan buka-buka aurat. Secara filosofis pengakuan iman kepada Allah berda dengan beriman kepada Tuhan tapi selain hanya Allah..."ujung" dari masalah ini adalah bagaimana seseorang yang berdosa akan beroleh ampunan melalui tuntunan kitab yang dimiliki. Perbedaan merespon pengampunan akan berdampak terhadap cara mengambil suatu kebijakan untuk diri dan orang lain.

    BalasHapus